Ikan Hiu adalah salah satu jenis ikan yang
ditakuti di laut dan membahayakan bagi manusia.
Jika ikan Hiu hilang dari laut, apa ruginya bagi manusia. Daging ikan Hiu tidak seenak ikan-ikan lain,
sirip ikan Hiu hanyalah mitos. Jika ikan
Hiu hilang dari laut, masih banyak alternatif lain sebagai bahan makanan untuk
manusia. Untuk apa ikan Hiu dilindungi?
Apakah supaya ikan Hiu ini akan tetap bisa dilihat oleh generasi mendatang?
Apakah rugi kalau seseorang dimasa depan tidak pernah melihat hiu secara nyata?
Pasti tidak, karena kondisinya akan seperti dinosourus, dulu ada, sekarang
tidak ada. Nothing happen.
Tetapi jika ada banyak orang yang dulu
bekerja dan dapat penghasilan, kemudian ikan Hiu hilang dari laut di sekitar lokasinya. Dan beberapa waktu kemudian, mereka di-PHK.
Hal ini akan menjadi isu, apa yang terjadi sebenarnya? Apa hubungannya ikan Hiu
yang hilang dengan PHK? Ada cerita seperti ini dari hasil penelitian oleh
Griffin et all, 2008, di Laut
Atlantic Utara mengenai hilangnya ikan Hiu sehingga terjadi PHK disana.
Telah terjadi penurunan populasi 11 jenis Hiu
di Laut Atlantik Utara, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah dari 12 spesies
ikan pari sampai 10 kali lipat. Ikan
pari yang memiliki habitat dan feeding
ground di padang lamun dengan makanan utama adalah kerang hammerhead, telah menghilangkan kerang hammerhead ini di lokasi tersebut pada
tahun 2004. Ikan pari dan beberapa predator lain di bawah level tropik ikan Hiu,
mencari sumber makanan lain yaitu jenis kerang-kerangan lain, salah satunya
adalah kerang ‘Quahog’. Kerang Quahog
mengalami deplesi populasi. Jenis kerang
ini adalah menu khas restoran-restoran di daerah ini, sehingga menghilangnya
jenis kerang ini dari habitatnya karena predasi yang terlalu tinggi,
menyebabkan keuntungan restoran menurun drastis. Hal ini tentu saja mengakibatkan tenaga kerja
restoran dari masyarakat lokal kehilangan pekerjaan karena PHK dari restoran
tempat kerjanya.
Pergantian kelimpahan spesies tidak hanya konsekuensi dari hilangnya ikan
Hiu sebagai top predator, tetapi laut sebagai habitat akan berubah. Ikan pari yang lapar akan memperluas wilayah
perburuannya dan akan mengganggu habitat lain.
Kerang-kerangan yang semakin habis karena dimakan oleh ikan pari
menimbulkan masalah lain. Kerang adalah
biofilter di laut yang menjernihkan perairan laut dan pemakan alga. Keberadaan kerang-kerangan akan mempertahakan
kualitas perairan yang baik. Hilangnya
kerang-kerangan di habitat lamun menjadikan nursery
ground ikan tidak layak lagi, akan terjadi kekeruhan perairan yang
tinggi. Alga akan blooming tidak tercontrol, terjadi dead zonas, akhirnya terjadi kerusakan ekosistem secara luas.
Pada bagian dunia lain, University of California, San Diego, Jordi et all 2005, mengembangkan unprecedent model pada ekosistem laut
Caribian dengan memasukkan interaksi predator dan mangsa yang detail dan
rumit. Model ini belum pernah terjadi
secara nyata, model jaring makanan yang dikembangkan ini meliputi area 1.000
Kilometer persegi yang sampai pada kedalaman 100 meter dengan memasukkan 250
spesies organisme laut. Konsepnya adalah
terjadi overfishing terhadap predator hiu yang berdampak terjadinya perubahan
‘liar’ kelimpahan ekosistem pada beberapa spesies ikan dan berkontribusi pada degradasi keseluruhan ekosistem karang. Secara acak, riset pengembangan model ini
menunjukkan ekosistem terumbu karang membutuhkan ikan hiu untuk memastikan
stabilitas keberadaan sistem. Pada saat
ikan hiu mengalami penangkapan berlebih, efek tak menentu atau liar ini membawa
deplesi grazer penting terhadap hidup
tumbuhan air. Hal ini menyebabkan hanya
sedikit ikan Hiu yang memangsa organisme karnivor seperti ikan kerapu, terjadi
peningkatan jumlah dan kemampuan ikan kerapu untuk memangsa ikan kakatua. Menghilangnya pemakan tumbuhan seperti ikan
kakatua mengakibatkan alga mendominasi ekosistem terumbu karang. Alga tidak lagi bersimbiosis dan
bermutualisme dengan karang. Tapi karena
alga lebih dominan, sehingga menghambat sinar matahari masuk ke kolom air dan
menutupi permukaan karang, kemudian menyebabkan kerusakan dan kematian pada
terumbu karang. Kalau meminjam istilah “Terumbu
karang sehat ikan belimpah”-nya Coremap, jelas sudah tidak berlaku di lokasi
seperti ini. Tidak lama setelah itu,
manusia juga yang akan rugi.
Ikan Hiu memainkan sebuah peranan penting dalam rantai makanan di
lautan. Jika Hiu mengalami penurunan
jumlah serius, maka perikanan komersial akan terancam. Hal ini terjadi di Australia, sebuah
perikanan lobster terancam karena penurunan jumlah Hiu yang tidak dapat
mengontrol gurita yang memangsa lobster.
Rantainya adalah lobster dimakan oleh gurita, dan gurita dimakan oleh
hiu. Ikan Hiu menyebar secara global dan
memainkan peranan vital untuk menjaga kesehatan ekosistem laut.
Kemudian konsep rantai makanan menjelaskan secara umum saling
ketergantungan setiap individu. Tumbuhan
adalah dasar dari hampir semua rantai makanan di bumi. Tumbuhan menggunakan sinar matahari untuk
memproduksi makanannya melalui fotosintesisi.
Seperti halnya di lautan, sebagian besar organisme tergantung pada
tumbuhan air sebagai makanan. Dasar
paling penting dari rantai makanan ini adalah tumbuhan fitoplankton. Jutaan organisme tumbuhan renik ini berada di
permukaan air, yang dimakan oleh zooplankton (hewan renik) dan juga oleh
kerang-kerangan, karang dan ikan-ikan kecil.
ikan-ikan lebih besar memakan organisme pemakan zooplankton ini. Jika
salah satu mata rantai makanan ini hilang, ini akan menciptakan
ketidakseimbangan dalam komunitas. Jika
ikan Hiu hilang dalam mata rantai ini, ikan-ikan predator besar (makanan ikan
Hiu) akan mengalami ledakan populasi.
Hal ini akan menyebabkan deplesi ikan-ikan mangsa lebih kecil dan
timbullah ketidakseimbangan. Oleh karena itu, jumlah
populasi spesies juga merupakan aspek penting dari hirarki ekosistem. Setiap ekosistem,
tidak peduli betapa rapuhnya, saling mendukung pada setiap individu. Hiu makan
ikan yang sudah lemah, sakit atau mati, adalah mekanisme yang memelihara ekosistem
laut yang sehat.
Nybakken (1992) menjelaskan bahwa predator di laut dapat berfungsi
mengontrol secara luas dan kuat atau hanya berfungsi kecil terhadap populasi
mangasnya. Secara umum, di beberapa
ekosistem laut dunia, ikan Hiu termasuk predator yang berfungsi secara luas dan
kuat mengontrol populasi mangsanya, sehingga berkurang atau hilangnya ikan Hiu
dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem di laut.
Melihat pentingnya peranan ikan Hiu dalam ekosistem dan hubungannya dengan
kesejahteraan manusia, maka sangat sedih jika ternyata setiap tahun, manusia telah
membunuh lebih dari 100 juta ekor ikan Hiu di dunia. Sebanyak 73 juta ekor dibunuh untuk industri
sirip hiu. Basking Shark
(Cetorhinus maximus), ikan Hiu
terbesar kedua dengan panjang 6-12 meter, bahkan bisa lebih besar lagi, sangat
rentan jika dieksploitasi karena masa dewasanya setelah 15-20 tahun, memiliki periode kehamilan 2-3 tahun dan hanya menghasilkan 4-6 anak.
Apakah hanya karena ikan Hiu tertangkap bycatch sehingga terlalu merepotkan jika
dibiarkan lepas dalam keadaan hidup? Ataukah hanya mitos mengkonsumsi sirip
hiu? Sirip Hiu tidak enak dan tidak ada
rasanya serta mengandung methyl mercury
dalam tingkatan beracun untuk manusia.
Dan sama sekali tidak boleh membunuh ikan Hiu ini hanya alasan
menakutkan di laut. Karena lebih dari 500 species hiu di dunia, hanya 10 jenis diantaranya
yang diketahui menggigit manusia.
Kemudian Nontji (1993) menyampaikan bahwa hampir tidak laporan yang
menyatakan nelayan diserang oleh ikan Hiu pada saat melaut.
Di Indonesia, apa yang akan terjadi jika ikan Hiu mengalami deplesi? Nasib
ekosistem laut kita akan sama dengan kondisi di atas, akhirnya akan terjadi
ketidakseimbangan kemudian akan merugikan manusia. Hanya ada satu hal keberuntungan kita di
Indonesia dan negara kelautan tropis lainnya, ekosistem laut kita memiliki biodiversity (keanekaragaman) yang
tinggi, sehingga memiliki resilience
(daya lenting) tinggi yang mampu bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan
laut biodiversity rendah. Tetapi ekosistem adalah sistem unpredictable jika ada gangguan atau
tekanan. Dia akan menjadi liar dan susah
diprediksi keseimbangannya akan mengarah kemana. Untuk berusaha melakukan memprediksi hal ini,
kita perlu area lebih besar dari 1000 kilometer persegi, kedalaman lebih dari
100 meter dan interaksi lebih dari 250 spesies seperti di Laut Karibia untuk
membuat model jaring-jaring makanan dan antisipasinya jika ada masalah. Kita
akan membutuhkan sumberdaya manusia lebih pintar dan lebih banyak, serta dana
dan waktu lebih banyak. Taruhannya lebih
besar jika kita tidak menjaga ikan Hiu kita, termasuk ekosistem laut lainnya
sejak sekarang. Untuk apa Ikan Hiu
dilindungi? Jawabannya adalah untuk Manusia.
Sumber tulisan:
·
Griffin, E.,
Miller, K.L., Freitas, B. and Hirshfield, M. July 2008. Predators as Prey: Why
Healthy Oceans Need Sharks.OCEANA, Washington.
·
http://ohia.org
; Diakses: 18/10/2011 15:09.
·
http://www.sharksavers.org. Shark Statistics. Diakses:
18/10/2011 15:32.
·
Jordi Bascompte,
Carlos Melián dan Enric Sala. Overfishing
Of Sharks Key Factor In Coral Reef Decline. Institution of Oceanography at the University of California, San
Diego. ScienceDaily (Apr. 13, 2005).
·
Nontji, A. 1993.
Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta.
·
Nybakken, W.J.
1992. Biologi Laut, Suatu pendekatan ekologis. Gramedia, Jakarta.
Penulis:
Muhammad Yusuf
Program Perikanan, WWF-Indonesia
Tulisan ini pernah diusulkan ke salah satu media online tahun 2011, tetapi tidak dipublikasikan.
No comments:
Post a Comment