Friday, March 13, 2015

Menanam mangrove di kawasan tambak udang, meningkatkan produktifitas dan lebih ramah lingkungan

Kawasan tambak udang dapat dikatakan sebagai satu kesatuan kawasan jika berada pada daerah aliran sungai yang sama.  Pengelolaan tambak dalam satu kawasan seperti ini membutuhkan kerjasama antar sesama pengelola atau pemilik tambak, karena akan saling dipengaruhi oleh aliran air sungai yang sama, baik air yang masuk ke tambak maupun yang keluar.  Hal ini sudah disadari oleh petambak sejak dulu, tetapi pengembangan tambak dengan cara ekstensifikasi (perluasan) dan intensifikasi, tidak cukup menopang daya dukung lingkungan (carrying capacity) agar tambak tetap berproduksi optimal.
Dampak turunnya daya dukung lingkungan akibat pengembangan tambak sangat terasa sejak tahun 1999 dimana terjadi konversi hutan mangrove dan input teknologi intensif dalam pengelolaan tambak.  Hanya beberapa tahun selanjutnya, penyakit udang merajalela dan mengakibatkan kegagalan panen yang beruntun.  Tambak udang intensif tidak ekonomis lagi. Bahkan dampak kemunculan penyakit seperti white spot masuk ke tambak-tambak tradisional.  Produksi udang nasional anjlok.
Penurunan daya dukung lingkungan menjadi perhatian semua pihak.  Tambak intensif kembali ke tambak tradisional.  Tetapi daya dukung  dan kerusakan lingkungan masih sulit dikembalikan agar tambak bisa kembali berproduksi baik.  Kemudian muncul beberapa tawaran sistem pertambakan seperti tambak orgaik,  tambak ramah lingkungan an tambak tradisional murni.  Pemerintah Indonesia juga kemudian mengeluarkan peraturan untuk menerapkan cara budidaya ikan yang baik (CBIB).  Secara global muncul juga standar pengelolaan tambak udang yang harus menerapkan aspek lingkungan dengan mekanisme sertifikasi.  Prinsipnya adalah tambak harus dikelola secara berkelanjutan.
Suatu lahan tambak akan berproduksi secara berkelanjutan jika berada pada kondisi lingkungan sehat yang dapat menopang proses pemeliharaan dalam tambak.  Kemudian dalam lahan tambak sendiri juga harus dilakukan proses untuk menjaga agar kondisinya tetap baik.  Penanaman mangrove di kawasan tambak adalah salah satu aktivitas dan proses penting untuk menjaga daya dukung lingkungan dalam kawasan pertambakan.  Dengan padat penebaran udang yang rendah (tambak tradisional) serta adanya tanaman mangrove di petakan tambak, pematang, saluran air dan pantai (green belt), dapat mengembalikan fungsi lahan tambak yang memproduksi udang secara optimal.  Kajian keberadaan mangrove dan tambak dapat dilihat sebagai berikut: 
  1. Mangrove sebagai green belt, sehingga tambak harus berada pada lokasi minimal 130 kali selisih pasang tertinggi dan surut terendah diukur dari garis pantai surut terendah.  Hal ini berdasarkan pada Peraturan Pengganti UU No. 19 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999  Tentang Kehutanan
  2. Ratifikasi Konvensi Ramsar tentang Lahan Basah (Wetlands) melalui Keppres dan dialog akuakultur bahwa membatasi agar tambak yang dibuka sebelum tahun 1999, melakukan penanaman mangrove minimal 50% dari lahan kawasan tambak yang ada.  Sedangkan yang dibuka setelah 1999 harus dapat membuktikan tambak tersebut tidak merusak hutan mangrove.
  3. Adanya areal sempadan pantai, sesuai dengan UU no. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang; dan UU No.27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau.  Beberapa peraturan menetapkan lebarnya adalah minimal 100 m dari garis pantai surut terendah yang dapat menjadi lokasi penanaman mangrove.
  4. Memenuhi kriteria Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), yaitu pedoman dan tata cara budidaya, termasuk cara panen yang baik, untuk memenuhi persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan budidaya dari Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) No.19 tahun 2010 dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Nomor Kep. 02/Men/2007.
Adanya kajian tersebut menguatkan keberadaan dan pengelolaan tambak dengan penghijauan serta mangrove yang terjaga, merupakan usaha sangat baik yang dapat dilakukan dengan kondisi sumberdaya dan sosial di Indonesia. Serta dapat menjadi win win solution dan jalan tengah untuk keberlanjutan sumberdaya, produksi bagus dan lingkungan terjaga.
Selain sebagai suatu ekosistem penting di wilayah pesisir, mangrove juga memiliki fungsi penting lainnya di wilayah tambak.  Mangrove memiliki beberapa fungsi secara ekologis, ekonomi dan sosial.  Penanaman mangrove di kawasan tambak udang dapat meningkatkan produksi udang serta pengelolaan lingkungan yang lebih ramah lingkungan.
Fungsi Ekologis
  • Menjadi filter terhadap buangan unsur atau senyawa nitrogen (N) dan phosfat (P) yang dapat mengganggu kesehatan dan pertumbuhan udang.  Meskipun buangan N dan P pada tambak udang tradisional sangat kecil, tetapi dengan adanya mangrove di tambak akan mempercepat netralisir bahan beracun tersebut.  Air buangan dari tambak ke laut juga tidak akan mencemari perairan.
  • Mangrove dapat menangkap partikel halus lumpur sehingga menjaga air tetap bersih serta  juga membantu membentuk adanya struktur tanah baru pada sistem perakarannya.
  • Sebagai penyedia makanan alami untuk udang yang dipelihara.
  • Akar mangrove sebagai tempat berlindungnya udang dari predator.
  • Tempat bernaung udang dari terik matahari (shelter).
  • Pertahanan kestabilan pematang tambak serta mengatasi kebocoran pematang atau saluran. 
Fungsi Ekonomi
  • Keberlanjutan usaha budidaya tambak udang dalam jangka panjang karena daya dukung lingkungan yang tetap terjaga.
  • Kawasan tambak lebih tahan terhadap serangan penyakit, karena kemampuan mangrove dalam menyerap limbah dan menghasilkan zat anti-bakteri.
  • Dengan sistem silvofishery, petambak dapat memperoleh hasil tambahan seperti kepiting, ikan, udang laut, baik dalam tambak, di saluran air dan pantai.
  • Sumber kayu dari hasil pemangkasan atau penjarangan mangrove, dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, bangunan, arang, dan lain-lain.
  • Beberapa jenis mangrove dapat dimanfaatkan untuk olahan makanan dari buah mangrove, pewarna alami dan obat tradisonal, pakan ternak, dan lain-
Fungsi sosial
  • Pembatas alami pada pematang sehingga tidak ada konflik sesama petambak yang bertetangga.
  • Meningkatkan kerjasama sesama petambak secara berkelompok dalam pengelolaan kawasan mangrove.
  • Menciptakan kenyamanan di kawasan tambak.
Jika dibandingkan dengan pengelolaan tambak dekade sebelumnya, maka keberadaan mangrove di kawasan tambak termasuk green belt, merupakan model tambak yang lebih ramah lingkungan dengan produksi lebih optimal pula.  Meskipun mungkin bukan hal terbaik yang dilakukan, tetapi melakukan hal yang lebih baik adalah pilihan yang bijaksana.  Sekarang ini WWF Indonesia sedang menyusun protokol ‘Penanaman Mangrove di Kawasan Tambak Udang Tradisional” sebagai salah satu seri lanjutan BMP Budidaya Tambak Udang Tradisional yang sudah terbit.


Muhammad Yusuf

Untuk apa Ikan Hiu Dilindungi?

Ikan Hiu adalah salah satu jenis ikan yang ditakuti di laut dan membahayakan bagi manusia.  Jika ikan Hiu hilang dari laut, apa ruginya bagi manusia.  Daging ikan Hiu tidak seenak ikan-ikan lain, sirip ikan Hiu hanyalah mitos.  Jika ikan Hiu hilang dari laut, masih banyak alternatif lain sebagai bahan makanan untuk manusia.  Untuk apa ikan Hiu dilindungi? Apakah supaya ikan Hiu ini akan tetap bisa dilihat oleh generasi mendatang? Apakah rugi kalau seseorang dimasa depan tidak pernah melihat hiu secara nyata? Pasti tidak, karena kondisinya akan seperti dinosourus, dulu ada, sekarang tidak ada. Nothing happen.

Tetapi jika ada banyak orang yang dulu bekerja dan dapat penghasilan, kemudian ikan Hiu hilang dari laut di sekitar lokasinya.  Dan beberapa waktu kemudian, mereka di-PHK. Hal ini akan menjadi isu, apa yang terjadi sebenarnya? Apa hubungannya ikan Hiu yang hilang dengan PHK? Ada cerita seperti ini dari hasil penelitian oleh Griffin et all, 2008, di Laut Atlantic Utara mengenai hilangnya ikan Hiu sehingga terjadi PHK disana.

Telah terjadi penurunan populasi 11 jenis Hiu di Laut Atlantik Utara, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah dari 12 spesies ikan pari sampai 10 kali lipat.  Ikan pari yang memiliki habitat dan feeding ground di padang lamun dengan makanan utama adalah kerang hammerhead, telah menghilangkan kerang hammerhead ini di lokasi tersebut pada tahun 2004. Ikan pari dan beberapa predator lain di bawah level tropik ikan Hiu, mencari sumber makanan lain yaitu jenis kerang-kerangan lain, salah satunya adalah kerang ‘Quahog’.  Kerang Quahog mengalami deplesi populasi.  Jenis kerang ini adalah menu khas restoran-restoran di daerah ini, sehingga menghilangnya jenis kerang ini dari habitatnya karena predasi yang terlalu tinggi, menyebabkan keuntungan restoran menurun drastis.  Hal ini tentu saja mengakibatkan tenaga kerja restoran dari masyarakat lokal kehilangan pekerjaan karena PHK dari restoran tempat kerjanya.

Pergantian kelimpahan spesies tidak hanya konsekuensi dari hilangnya ikan Hiu sebagai top predator, tetapi laut sebagai habitat akan berubah.  Ikan pari yang lapar akan memperluas wilayah perburuannya dan akan mengganggu habitat lain.  Kerang-kerangan yang semakin habis karena dimakan oleh ikan pari menimbulkan masalah lain.  Kerang adalah biofilter di laut yang menjernihkan perairan laut dan pemakan alga.  Keberadaan kerang-kerangan akan mempertahakan kualitas perairan yang baik.  Hilangnya kerang-kerangan di habitat lamun menjadikan nursery ground ikan tidak layak lagi, akan terjadi kekeruhan perairan yang tinggi.  Alga akan blooming tidak tercontrol, terjadi dead zonas, akhirnya terjadi kerusakan ekosistem secara luas.

Pada bagian dunia lain, University of California, San Diego, Jordi et all 2005, mengembangkan unprecedent model pada ekosistem laut Caribian dengan memasukkan interaksi predator dan mangsa yang detail dan rumit.  Model ini belum pernah terjadi secara nyata, model jaring makanan yang dikembangkan ini meliputi area 1.000 Kilometer persegi yang sampai pada kedalaman 100 meter dengan memasukkan 250 spesies organisme laut.  Konsepnya adalah terjadi overfishing terhadap predator hiu yang berdampak terjadinya perubahan ‘liar’ kelimpahan ekosistem pada beberapa spesies ikan  dan berkontribusi  pada degradasi keseluruhan ekosistem karang.  Secara acak, riset pengembangan model ini menunjukkan ekosistem terumbu karang membutuhkan ikan hiu untuk memastikan stabilitas keberadaan sistem.  Pada saat ikan hiu mengalami penangkapan berlebih, efek tak menentu atau liar ini membawa deplesi grazer penting terhadap hidup tumbuhan air.  Hal ini menyebabkan hanya sedikit ikan Hiu yang memangsa organisme karnivor seperti ikan kerapu, terjadi peningkatan jumlah dan kemampuan ikan kerapu untuk memangsa ikan kakatua.  Menghilangnya pemakan tumbuhan seperti ikan kakatua mengakibatkan alga mendominasi ekosistem terumbu karang.  Alga tidak lagi bersimbiosis dan bermutualisme dengan karang.  Tapi karena alga lebih dominan, sehingga menghambat sinar matahari masuk ke kolom air dan menutupi permukaan karang, kemudian menyebabkan kerusakan dan kematian pada terumbu karang.  Kalau meminjam istilah “Terumbu karang sehat ikan belimpah”-nya Coremap, jelas sudah tidak berlaku di lokasi seperti ini.  Tidak lama setelah itu, manusia juga yang akan rugi.

Ikan Hiu memainkan sebuah peranan penting dalam rantai makanan di lautan.  Jika Hiu mengalami penurunan jumlah serius, maka perikanan komersial akan terancam.  Hal ini terjadi di Australia, sebuah perikanan lobster terancam karena penurunan jumlah Hiu yang tidak dapat mengontrol gurita yang memangsa lobster.  Rantainya adalah lobster dimakan oleh gurita, dan gurita dimakan oleh hiu.  Ikan Hiu menyebar secara global dan memainkan peranan vital untuk menjaga kesehatan ekosistem laut.

Kemudian konsep rantai makanan menjelaskan secara umum saling ketergantungan setiap individu.  Tumbuhan adalah dasar dari hampir semua rantai makanan di bumi.  Tumbuhan menggunakan sinar matahari untuk memproduksi makanannya melalui fotosintesisi.  Seperti halnya di lautan, sebagian besar organisme tergantung pada tumbuhan air sebagai makanan.  Dasar paling penting dari rantai makanan ini adalah tumbuhan fitoplankton.  Jutaan organisme tumbuhan renik ini berada di permukaan air, yang dimakan oleh zooplankton (hewan renik) dan juga oleh kerang-kerangan, karang dan ikan-ikan kecil.  ikan-ikan lebih besar memakan organisme pemakan zooplankton ini.   Jika salah satu mata rantai makanan ini hilang, ini akan menciptakan ketidakseimbangan dalam komunitas.  Jika ikan Hiu hilang dalam mata rantai ini, ikan-ikan predator besar (makanan ikan Hiu) akan mengalami ledakan populasi.  Hal ini akan menyebabkan deplesi ikan-ikan mangsa lebih kecil dan timbullah ketidakseimbangan.  Oleh karena itu, jumlah populasi spesies juga merupakan aspek penting dari hirarki ekosistem. Setiap ekosistem, tidak peduli betapa rapuhnya, saling mendukung pada setiap individu. Hiu makan ikan yang sudah lemah, sakit atau mati, adalah mekanisme yang memelihara ekosistem laut yang sehat.

Nybakken (1992) menjelaskan bahwa predator di laut dapat berfungsi mengontrol secara luas dan kuat atau hanya berfungsi kecil terhadap populasi mangasnya.  Secara umum, di beberapa ekosistem laut dunia, ikan Hiu termasuk predator yang berfungsi secara luas dan kuat mengontrol populasi mangsanya, sehingga berkurang atau hilangnya ikan Hiu dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem di laut.

Melihat pentingnya peranan ikan Hiu dalam ekosistem dan hubungannya dengan kesejahteraan manusia, maka sangat sedih jika ternyata setiap tahun, manusia telah membunuh lebih dari 100 juta ekor ikan Hiu di dunia.  Sebanyak 73 juta ekor dibunuh untuk industri sirip hiu.  Basking Shark (Cetorhinus maximus), ikan Hiu terbesar kedua dengan panjang 6-12 meter, bahkan bisa lebih besar lagi, sangat rentan jika dieksploitasi karena masa dewasanya setelah 15-20 tahun, memiliki periode kehamilan 2-3 tahun dan hanya menghasilkan 4-6 anak.

Apakah hanya karena ikan Hiu tertangkap bycatch sehingga terlalu merepotkan jika dibiarkan lepas dalam keadaan hidup? Ataukah hanya mitos mengkonsumsi sirip hiu?  Sirip Hiu tidak enak dan tidak ada rasanya serta mengandung methyl mercury dalam tingkatan beracun untuk manusia.  Dan sama sekali tidak boleh membunuh ikan Hiu ini hanya alasan menakutkan di laut.  Karena lebih dari 500 species hiu di dunia, hanya 10 jenis diantaranya yang diketahui menggigit manusia.  Kemudian Nontji (1993) menyampaikan bahwa hampir tidak laporan yang menyatakan nelayan diserang oleh ikan Hiu pada saat melaut.

Di Indonesia, apa yang akan terjadi jika ikan Hiu mengalami deplesi? Nasib ekosistem laut kita akan sama dengan kondisi di atas, akhirnya akan terjadi ketidakseimbangan kemudian akan merugikan manusia.  Hanya ada satu hal keberuntungan kita di Indonesia dan negara kelautan tropis lainnya, ekosistem laut kita memiliki biodiversity (keanekaragaman) yang tinggi, sehingga memiliki resilience (daya lenting) tinggi yang mampu bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan laut biodiversity rendah.   Tetapi ekosistem adalah sistem unpredictable jika ada gangguan atau tekanan.  Dia akan menjadi liar dan susah diprediksi keseimbangannya akan mengarah kemana.  Untuk berusaha melakukan memprediksi hal ini, kita perlu area lebih besar dari 1000 kilometer persegi, kedalaman lebih dari 100 meter dan interaksi lebih dari 250 spesies seperti di Laut Karibia untuk membuat model jaring-jaring makanan dan antisipasinya jika ada masalah. Kita akan membutuhkan sumberdaya manusia lebih pintar dan lebih banyak, serta dana dan waktu lebih banyak.  Taruhannya lebih besar jika kita tidak menjaga ikan Hiu kita, termasuk ekosistem laut lainnya sejak sekarang. Untuk apa Ikan Hiu dilindungi? Jawabannya adalah untuk Manusia.

Sumber tulisan:
·         Griffin, E., Miller, K.L., Freitas, B. and Hirshfield, M. July 2008. Predators as Prey: Why Healthy Oceans Need Sharks.OCEANA, Washington.
·         http://ohia.org ; Diakses: 18/10/2011 15:09.
·         http://www.sharksavers.orgShark Statistics.  Diakses: 18/10/2011 15:32.
·         Jordi Bascompte, Carlos Melián dan Enric Sala.  Overfishing Of Sharks Key Factor In Coral Reef Decline. Institution of Oceanography at the University of California, San Diego.  ScienceDaily (Apr. 13, 2005).
·         Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta.
·         Nybakken, W.J. 1992. Biologi Laut, Suatu pendekatan ekologis. Gramedia, Jakarta.

Penulis:
Muhammad Yusuf
Program Perikanan, WWF-Indonesia

Tulisan ini pernah diusulkan ke salah satu media online tahun 2011, tetapi tidak dipublikasikan.